PROFIL RUMAH SAKIT TK.II KARTIKA HUSADA





KESEHATAN DAERAH MILITER XII/TANJUNGPURA
     RUMAH SAKIT TINGKAT II KARTIKA HUSADA     .
 







PROFIL
RUMAH SAKIT TK.II KARTIKA HUSADA
 



1.     Data Umum  

Alamat
Jl. Adi Sucipto Km. 6,5 Sei Raya Kab.Kubu Raya
Prov.Kalimantan Barat
Telp
0561-721391
Fax
0561-721392
E-mail
Kode Pos
78391
Luas tanah
31.798 M2
No sertifikat tanah
NIB 14.14.07.01.23020
Status tanah
Tanah Negara
Luas bangunan
5.061 M2
Listrik  - PLN
60.000 Watt
Genset
30.000 Watt ( 4 bh Genset kecil ) + 30.000 WatT (1 bh Genset Besar)
Air
Bak Penampungan air sungai/hujan hasil swadaya Rs.


2.         Sejarah singkat Rumah Sakit TK.II Kartika Husada

a.         Rumah Sakit TK.II Kartika Husada sebelumnya bernama Djawatan Kesehatan sub Teritorium (DKT) I/VI yang di serahkan Belanda pada tahun 1950 kepada Pemerintah RI, dengan kepala DKT :

Tahun
Karumkit

Tahun 1950 s/d 1954

Tahun 1954 s/d 1957

Tahun 1957 s/d 1960

Tahun 1960 s/d 1963 

Tahun 1963 s/d 1968

Letkol  Cdm dr.Sambijono,selanjutnya;

Letkol  Cdm dr Alibasah Saleh

Letkol  Cdm Soeharto

Kolonel Cdm Soegeng

Mayor Cdm dr. Soewito

b.            Pada Tahun 1968 Djawatan Kesehatan sub Teritorium  I / VI (DKT) berubah nama menjadi Rumkit Kesdam XII/ Tanjungpura, dengan Kepala Rumkit :

Tahun
Karumkit

Tahun 1968 s/d 1972

Tahun 1972 s/d 1977

Tahun 1977 s/d 1980

Tahun 1980 s/d 1985

Letkol Cdm dr.Hadi Kusnan

Letkol Cdm.dr.Soewasono

Letkol Cdm dr.Abdul Hadi

Letkol Cdm dr.Suparman


c.         Pada tahun 1985 Kodam XII/ Tanjungpura yang berkedudukan di Pontianak Kalimantan Barat dilikuidasi menjadi Kodam  VI/ Tanjungpura yang berkedudukan di Balikpapan Kalimantan Timur (Kaltim) dan Rumkit Kesdam XII/Tanjungpura berubah nama menjadi Rumah sakit TK III Pontianak berkedudukan di Jalan Jendral Sudirman  No.1 Pontianak, dengan Kepala Rumkit :

Tahun
Karumkit

Tahun 1985 s/d 1992


Letkol Ckm dr.Hendrodarono .KS



d.         Pada tahun 1990 Rumah Sakit TK III Pontianak yang beralamat di jalan Sudirman  No .1 Pontianak dipindahkan ke gedung yang baru dengan alamat Jl. Adi Sucipto  Km.7 Sei Raya Kab Kubu Raya yang diresmikan oleh Wakasad Letnan Jenderal TNI Sahala Rajagukguk pada tanggal 26 Oktober 1990, dengan Kepala Rumkit :

Tahun
Karumkit

Tahun 1992 s/d  1995

Tahun 1995 s/d 2001

Tahun 2001 s/d 2004 

Tahun 2004 s/d 2007

Letkol  Ckm drg.Imron  Siregar

Letkol Ckm dr.Supardi Panglet Projo,Sp.B

Letkol Ckm dr.H.Moch.Salim.Sp.THT

Letkol Ckm dr.Dwijo Pratiknjo,Sp.M


e.         Pada tahun 2007 bertepatan hari ulang tahun Kesehatan Angkatan Darat yang ke 62 sebutan Rumah Sakit TK III Pontianak menjadi Rumah Sakit TK III Kartika Husada Pontianak diresmikan oleh Komandan Detasemen Kesehatan Wilayah  06.04.04 Pontianak Letkol Ckm dr.Dony Hardono dan sebagai kepala Rumah Sakit :
Tahun
Karumkit

Tahun 2007 s/d 2009

Tahun 2009 s/d 2013


Letkol  Ckm drg. Jojo Suharjo, Sp.BM

Letkol Ckm dr. Iwan Darmawan,Sp.B


f.          Pada tahun 2010 Wilayah Kalimantan dibagi menjadi 2 Kodam ( Kodam XII/Tanjungpura wilayah Kalbar dan Kalteng dan  Kodam VI/Mulawarman wilayah Kaltim dan Kalsel) dan Rumah Sakit Tk.III Kartika Husada Pontianak di Bawah Kesdam XII/Tanjungpura, Kepala Kesdam Kolonel Ckm dr. Juliek Kun Widjajanto, Sp.B.

g.         Pada tahun 2011 Rumah Sakit Tk III Kartika Husada Pontianak terakreditasi oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) dengan ketetapan :
            a) Nomor                                :  KARS-SERT/77/X/2011
                        b) Pemeriksaan Meliputi     :  Adm dan Manaj, Pelayanan Medis, Pelayanan
                                                    Gadar, Pelayanan Kep, dan Rekam Medis
                        c) Status Akreditasi             :  Lulus Tingkat Dasar
                        d) Berlaku                              :  12 Oktober 2011s/d12 Oktober 2014

h.         Pada Tahun 2012 Rumah Sakit TK III Kartika Husada Pontianak, berubah status menjadi RS Tk II dengan dasar :
a)  Peraturan Panglima TNI Nomor : 8 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Status Rumah Sakit Tingkat II Di Lingkungan TNI

b)  Peraturan KASAD Nomor : Perkasad / 8 / VI / 2012 Tentang Penigkatan Status 6 Rumah Sakit Dari Tingkat III menjadi Tingkat II di Jajaran Kodam VI/MLW, IX/UDY, XII/TPR, XVI/PTM, XVII/CEN dan IM

i.              Pada tahun 2013 pergantian Kepala Rumah Sakit disertai dengan perubahan status Rumah Sakit dari Rumah Sakit Tk.III Kartika Husada Pontianak menjadi Rumah Sakit Tk.II Kartika Husada, dengan Kepala Rumah Sakit :

Tahun
Karumkit

Tahun 2013 s/d Sekarang

Kolonel Ckm dr. Agus Sunaryo, M.Kes, MARS


3.       VISI dan MISI

VISI     Rumah Sakit Tk.II Kartika Husada menjadi rumah sakit pilihan utama dan kebanggaan bagi prajurit, PNS dan keluarganya serta masyarakat umum diwilayah Kalimantan Barat.           

            MISI    1.         Menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada Prajurit, PNS dan keluarganya secara professional, manusiawi dengan perasaan aman dan nyaman.

2.            Melaksanakan fungsi sosial  dengan  memberikan  pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum secara professional dan tulus.

Artikel Lainnya:

PERAN KESEHATAN GIGI DALAM MENDUKUNG ISU PEMBANGUNAN KESEHATAN





PERAN KESEHATAN GIGI DALAM MENDUKUNG ISU PEMBANGUNAN KESEHATAN
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut 23,4 persen, prevalensi penduduk yang kehilangan seluruh gigi aslinya 1,6 persen, dan prevalensi nasional karies aktif 43,4 persen. Adapun prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi 29,6 persen. Ini masih menjadi masalah, karena beberapa temuan ilmiah menunjukkan adanya kaitan antara kesehatan gigi dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk penyakit jantung, diabetes, stroke, gangguan kehamilan dan dampak karies gigi juga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah. Dengan meningkatkan kualitas kesehatan gigi akan dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Pembangunan kesehatan telah menghasilkan beragam perbaikan, sehingga derajat kesehatan masyarakat terus meningkat.
            Kesehatan gigi dan mulut ibu dan anak sebaiknya mendapat perhatian yang serius, bahkan sejak ibu mengandung. Hal ini mengingat dampak yang ditimbulkan dapat berpengaruh terhadap kehamilan. Salah satu kepedulian tentang kesehatan gigi ibu dan anak adalah dengan menyebarluaskan informasi bagaimana merawat gigi dengan benar sejak ibu sebelum hamil, saat kehamilan, dan saat mempunyai anak. Perawatan kesehatan gigi yang benar akan membantu meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
Isu Strategis Pembangunan Kesehatan 2018
  1. Peningkatan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas bagi ibu dan anak,
  2. Peningkatan pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta penyehatan lingkungan,
  3. Peningkatan profesionalisme dan pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata,
  4. Peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan,
  5. Peningkatan ketersediaan , pemerataan, keterjangkauan, jaminan keamanan, khasiat/manfaat dan mutu obat, alat kesehatan, dan makanan, serta daya saing produk dalam negeri, dan
  6. Peningkatan Akses Pelayanan KB  Berkualitas yang Merata.
Kesehatan gigi dan mulut mendukung percepatan Isue Pembangunan Kesehatan
  1. Peningkatan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas bagi ibu dan anak
  • Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan : ibu perlu tahu kebersihan gigi dan mulut yang mendasar, serta makanan sehat dan bergizi bagi anak.
  • Mengurangi angka kematian anak : infeksi gigi, noma (gangrenous stomatitis) dan tradisi berbahaya dapat mengakibatkan kematian. Karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan melalui program: UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) dan UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat).
  • Memperbaiki kesehatan ibu hamil : kesehatan mulut ibu hamil buruk berefek terhadap kelahiran dan berat badan bayi, selain kesehatan gigi dan mulut bayi nantinya.
  • Penyuluhan dan pemberian informasi kepada ibu dapat dilakukan dalam kegiatan Posyandu rutin yang ada di masyarakat.
  • Pemeriksaan gigi bagi balita yang bertujuan agar gigi susu yang sudah tumbuh tidak terserang karies (gigi berlubang) sehingga tidak mengganggu pola makan dan zat gizi yang masuk bersama makanan dapat terserap dengan baik.
  1. Peningkatan pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta penyehatan lingkungan.
  • Memberantas HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Terdapat hubungan antara HIV/AIDS dengan kesehatan gigi dan mulut, dan permasalahan yang ditemukan dalam rongga mulut dapat menjadi indikator dini terjadinya infeksi.
  • Meyakinkan keberlangsungan lingkungan hidup : penanganan kesehatan gigi dan mulut melibatkan penggunaan teknologi yang sesuai, kontrol infeksi yang efektif, serta pembuangan limbah medis yang aman.
  • Gigi berlubang merupakan salah satu dari penyakit yang tidak menular, namun dapat berkembang apabila tidak dikendalikan sehingga dapat mengganggu seseorang yang menderitanya, oleh karena itu dengan memperhatikan keadaan kesehatan gigi dan mulut dapat mengendalikan penyakit tidak menular. Gigi berlubang dapat dikendalikan dengan pemeriksaan rutin yang dilakukan minimal 6 bulan sekali.
  1. Peningkatan profesionalisme dan pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata.
  • Mengadakan pelatihan bagi  tenaga kesehatan yang berada jauh dari kota dan mendaya gunakan kader kesehatan yang ada di setiap desa sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di desa.
  • Perawat gigi diharuskan memiliki kompetensi yang mumpuni dan bekerja sesuai dengan kode etik dan undang – undang kesehatan. Jumlah dokter di Indonesia saat ini sebenarnya sudah mencukupi. Perbandingannya 1:2500, artinya satu orang dokter mampu melayani minimal 2.500 pasien. Akan tetapi, permasalahannya adalah jumlah dokter di Indonesia belum merata. Jumlah dokter di kota besar dan di daerah tidak seimbang. Begitu juga dengan perawat gigi, belum semua puskesmas mempunyai perawat gigi atau hanya mempunyai 1 perawat gigi yang mana kebutuhan masyarakat akan kesehatan gigi semakin banyak.
Sesuai dengan permasalahan tersebut Sebagai Sarjana Sains Terapan Keperawatan Gigi, UKGS Inovatis adalah salah satu cara untuk membantu pembangunan kesehatan. UKGS Inovatif adalah  suatu komponen Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yangmerupakan suatu paket pelayanan asuhan sistematik dan ditujukan bagi semuamurid sekolah dasar dalam bentuk paket promotif, promotif-preventif dan paket optimal. Upaya promotif dan promotif-preventif paling efektif dilakukan pada anak sekolah dasar karena upaya peningkatan kesehatan harus sedini mungkin dandilakukan secara terus menerus agar menjadi kebiasaan.
UKGS Inovatif diperlukan karena penyakit gigi dan mulut sangat mempengaruhi derajat kesehatan, proses tumbuh kembang, bahkan masa depan anak. Anak-anak menjadi rawan kekurangan gizi karena rasa sakit pada gigi dan mulut menurunkan selera makan mereka. Kemampuan belajar anak pun akan menurun sehingga akan berpengaruh pada prestasi belajar. Tingginya angka karies gigi dan rendahnya status kebersihan mulut merupakan permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang sering dijumpai pada kelompok usia anak dasar. Untuk pemerataan tenaga kesehatan, UKGS Inovatif juga sangat diperlukan dan diharapkan ada pada setiap sekolah di Indonesia.
Program UKGS Inovatif
  • Pemeriksaan & deteksi dini kejadian karies
  • Penyuluhan tentang kesehatan gigi
  • Deteksi faktor risiko karies gigi menggunakan aplikasi Donut Irene
  • Gosok gigi massal/bersama-sama
  • Deteksi plak setelah menggosok gigi
  • Pembersihan karang gigi yang memerlukan
  • Penambalan dengan fissure sealant/ART
  • Surface protection
  • Terapi Remineralisasi
  • Proteksi eksternal dengan aplikasi mineral/fluoride
  • Pencabutan gigi susu yang sudah goyang
  • Produk-produk lain yang ditambahkan adalah hadiah bagi yang bebas karies.

  1. Peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan,
Konsep Pelayanan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional terbagi menjadi 3 (tiga) struktur layanan, yaitu pelayanan primer, pelayanan sekunder dan pelayanan tersier. Pelayanan kedokteran gigi berperan pada struktur layanan primer dan sekunder (Dewanto dan Lestari, 2014). Pelayanan primer yang diberikan oleh dokter gigi berupa pelayanan paripurna untuk meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut peserta 3 binaannya (BPJS Kesehatan, 2014a). Pelayanan primer ini menitik beratkan pada upaya pemeliharaan, pencegahan dan peningkatan kualitas hidup selain juga pengobatan dan pemulihan. Pelayanan kesehatan sekunder merupakan rujukan pada fasilitas kesehatan lanjutan dari pelayanan primer di fasilitas kesehatan tingkat pertama (BPJS Kesehatan, 2014b).
Berlakunya Jaminan Kesehatan Nasional mulai tanggal 1 Januari 2014 menjadi tantangan bagi praktisi kesehatan temasuk Dokter Gigi, karena diharapkan pelayanan kesehatan menjadi lebih baik, terstruktur serta terkendalinya mutu dan biaya. Dokter gigi sebagai salah satu penyedia layanan jasa kesehatan dalam JKN harus mempersiapkan diri agar pelayanan kesehatan terutama pelayanan primer dapat dirasakan manfaatnya. Perubahan mekanisme pelayanan JKN khususnya di bidang kedokteran gigi, harus diiringi penyesuaian diri dokter gigi berdasarkan kriteria pelayanan jasa kesehatan yang ditetapkan dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (Dewanto dan Lestari, 2014).
  1. Peningkatan ketersediaan , pemerataan, keterjangkauan, jaminan keamanan, khasiat/manfaat dan mutu obat, alat kesehatan, dan makanan, serta daya saing produk dalam negeri.
  • Tenaga kesehatan gigi menjamin ketersediaan mutukeamanan, dan khasiat obatdan alat kesehatan di fasilitas kesehatan gigi.
  • Tenaga kesehatan gigi melakukan perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalah gunaan obatserta penggunaan alat kesehatan.
  1. Peningkatan Akses Pelayanan KB  Berkualitas yang Merata.
  • Edukasi Prefentif dan promotif penyakit gigi dan mulut pada Akseptor KB.
Gingivitis dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satu faktor pendukung ialah karena adanya faktor hormonal. Dimana faktor hormonal mempengaruhi jaringan periodontal pada wanita disebabkan oleh penggunaan kontrasepsi. Kandungan kontrasepsi yang mengandung hormonal seperti progesteron dan estrogen. Efek dari kedua hormonal tersebut berupa peran biologis yang dapat mengurangi keratinisasi,meningkatkan jumlah inflamasi pada gingiva,meningkatkan permeabilitas dan produksi prostaglandin meningkat.
  • Sebuah penelitian mengejutkan berkaitan dengan alat kontrasepsi serta kesehatan gigi ditemukan oleh para peneliti dari Ware Centre of Dental Excellence di Hertfordshire, Inggris. Penelitian ini mengatakan bahwa penggunaan pil KB ternyata bisa menyebabkan gigi Anda meradang dan rusak. Cegah menggunakan obat kumur antiseptik yang akan membantu Anda untuk mencegah pembentukan plak, Mengonsumsi makanan sehat dapat memperkuat kesehatan gigi dan mulut.


Artikel Lainnya:

Manifestasi penyakit diabetes mellitus pada gigi dan mulut




BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit yang cukup sering dijumpai dan merupakan penyakit dengan prevalensi tertinggi diseluruh dunia. Prevalensi ini menunjukkan dimana 0,19% berusia < 20 tahun, 8,6% berusia > 20 tahun, dan 20,1% berusia > 65 tahun menderita diabetes melitus. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes melitus juga dapat mengakibatkan banyaknya manifestasi oral yang terkait dengan tingkat kontrol glikemik. Penderita diabetes melitus dengan risiko tinggi memiliki komplikasi dan kontrol metabolik yang buruk, seringkali mengalami hipoglikemi atau ketoasidosis dan membutuhkan injeksi insulin. Glukosa darah puasa terkadang melampaui 250 mg/dl, HbA1c > 9% dan kontrol glukosa yang buruk dalam waktu jangka panjang mempunyai risiko tinggi terhadap perawatan gigi dan mulut. Oleh karena itu, dengan memeriksa kondisi kesehatan rongga mulut dapat menjadi salah satu cara yang berharga dalam menunjang penegakan diagnosis untuk mengetahui seseorang menderita penyakit diabetes melitus atau tidak.

Manifestasi didalam rongga mulut lebih sering terjadi pada penderita diabetes melitus dengan kontrol gula darah yang buruk. Keluhan dan tanda kelainan didalam mulut pada penderita diabetes melitus sangat bervariasi dari yang ringan sampai berat antara lain xerostomia, burning mouth syndrome, halitosis, meningkatnya insidensi dan keparahan penyakit periodontal, oral lichen planus, perubahan flora normal rongga mulut yang didominasi oleh candida albicans dan luka bekas pencabutan gigi yang tidak sembuh. Sebagaimana kita ketahui, diabetes mellitus adalah suatu penyakit yang harus diwaspadai oleh masyarakat umum, dokter gigi, dan dental hygienist. Tercatat pada tahun 2005 diperkirakan pasien diabetes mellitus mencapai 12 juta penderita, prevalensinya semakin tinggi bila umur dan populasinya telah mengalami proses penuaan. Maka tenaga kesehatan memainkan peranan penting terhadap manajemen pasien diabetes mellitus.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah. Bagaimana manifestasi penyakit diabetes militus pada gigi dan mulut ?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian diabetes militus.
2.      Untuk mengetahui apa saja manifestasi penyakit diabetes militus pada gigi dan mulut.
3.      Untuk mengetahui cara pencegahan dan peningkatkan kesehatan rongga mulut pada penderita diabetes mellitus








BAB II
PEMBAHASAN
A.     Diabetes Militus
Diabetes Mellitus adalah penyakit gangguan metabolisme tubuh dimana hormon insulin tidak bekerja sebagai mana mestinya. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pankreas dan berfungsi untuk mengontrol kadar gula dalam darah dengan mengubah karbohidrat, lemak dan protein menjadi energi. Diabetes Melitus (DM) atau penyakit kencing manis merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai dengan kadar gula glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah darah sewaktu sama atau lebih dari 200 mg/dl, dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pembentukan atau keaktifan insulin yang dihasilkan oleh sel beta dari pulau-pulau Langerhans di Pankreas atau adanya kerusakan pada pulau Langerhans itu sendiri.
Diabetes Mellitus dapat dibagi dalam dua tipe, yaitu: Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) disebut Diabetes Mellitus tipe 1, Serta Non insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau Diabetes Mellitus tipe 2. Pada penderita Diabetes tipe 1, kelenjar pancreas tidak mampu memproduksi insulin, sehingga jumlah insulin beredar dalam tubuh tidak mencukupi kebutuhan. Lain halnya pada Diabetes tipe 2, Hormon Insulin tetap diproduksi namun tidak dapat berfungsi dengan baik. Menurut Prof. Sidartawan, Sp.PD, sebagian besar penderita Diabetes di Indonesia mengidap Diabetes tipe 2. Diabetes tipe ini secara umum biasa dikaitkan dengan usia lanjut. Diabetes tipe 2 ini juga disebabkan karena obesitas (kegemukan) dan gaya hidup yang tidak sehat (pola makan tinggi lemak, dan jarang berolah raga).
Diagnosis khas DM pada umumnya adalah bahwa terdapat keluhan khas DM yaitu : Poli uria (banyak kencing), Polidipsia (banyak minum), Polifagia (banyak makan), dan penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya, dan keluhan lainnya seperti : kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensi pada pria, pruritis vulva pada wanita. Kedua tipe ini ditandai dengan hiperglikemi, hiperlipidemi, dan komplikasi lainnya. Diabetes Mellitus mempunyai komplikasi yang utama, yaitu: mikroangiopati, nefropati, neuropati, penyakit makro vaskuler dan penyembuhan luka yang lambat.

B.    Manifestasi Penyakit Diabetes pada Rongga Mulut
1. Xerostomia (Mulut Kering)
Diabetes yang tidak terkontrol menyebabkan penurunan aliran saliva (air liur), sehingga mulut terasa kering. Saliva memiliki efek self-cleansing, di mana alirannya dapat berfungsi sebagai pembilas sisa-sisa makanan dan kotoran dari dalam mulut. Jadi bila aliran saliva menurun maka akan menyebabkan timbulnya rasa tak nyaman, lebih rentan untuk terjadinya ulserasi (luka), lubang gigi, dan bisa menjadi ladang subur bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Berdasarkan literatur yang saya dapatkan bahwa pada penderita diabetes salah satu tandanya adalah Poliuria, dimana penderita banyak buang air kecil sehingga cairan di dalam tubuh berkurang yang dapat mengakibatkan jumlah saliva berkurang dan mulut terasa kering, sehingga disarankan pada penderita untuk mengkonsumsi buah yang asam sehingga dapat merangsang kelenjar air liur untuk mengeluarkan air liur.( Graig S. Miller, 1992)

2. Gingivitis dan Periodontitis
Periodontitis ialah radang pada jaringan pendukung gigi (gusi dan tulang). Selain merusak sel darah putih, komplikasi lain dari diabetes adalah menebalnya pembuluh darah sehingga memperlambat aliran nutrisi dan produk sisa dari tubuh. Lambatnya aliran darah ini menurunkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi, Sedangkan periodontitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Dan hal ini menjadi lebih berat dikarenakan infeksi bakteri pada penderita Diabetes lebih berat. Ada banyak faktor yang menjadi pencetus atau yang memperberat periodontitis, di antaranya akumulasi plak, kalkulus (karang gigi), dan faktor sistemik atau kondisi tubuh secara umum. Rusaknya jaringan Periodontal membuat gusi tidak lagi melekat ke gigi, tulang menjadi rusak, dan lama kelamaan gigi menjadi goyang. Angka kasus penyakit periodontal di masyarakat cukup tinggi meski banyak yang tidak menyadarinya, dan penyakit ini merupakan penyebab utama hilangnya gigi pada orang dewasa. Dari seluruh komplikasi Diabetes Melitus, Periodontitis merupakan komplikasi nomor enam terbesar di antara berbagai macam penyakit dan Diabetes Melitus adalah komplikasi nomor satu terbesar khusus di rongga mulut. Hampir sekitar 80% pasien Diabetes Melitus gusinya bermasalah. Tanda-tanda periodontitis antara lain pasien mengeluh gusinya mudah berdarah, warna gusi menjadi mengkilat, tekstur kulit jeruknya (stippling) hilang, kantong gusi menjadi dalam, dan ada kerusakan tulang di sekitar gigi, pasien mengeluh giginya goyah sehingga mudah lepas. Menurut teori E.Desmond Farmer didapatkan hal tersebut diakibatkan berkurangnya jumlah air liur, sehingga terjadi penumpukan sisa makanan yang melekat pada permukaan gigi dan mengakibatkan gusi menjadi infeksi dan mudah berdarah
3. Stomatitis Apthosa (Sariawan)
Meski sariawan biasa dialami oleh banyak orang, namun penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi parah jika dialami oleh penderita diabetes. Penderita Diabetes sangat rentan terkena infeksi jamur dalam mulut dan lidah yang kemudian menimbulkan penyakit sejenis sariawan. Sariawan ini disebabkan oleh jamur yang berkembang seiring naiknya tingkat gula dalam darah dan air liur penderita diabetes.
4. Rasa mulut terbakar
Penderita diabetes biasanya mengeluh tentang terasa terbakar atau mati rasa pada mulutnya. Biasanya, penderita diabetes juga dapat mengalami mati rasa pada bagian wajah.
5. Oral thrush
Penderita diabetes yang sering mengkonsumsi antibiotik untuk memerangi infeksi sangat rentan mengalami infeksi jamur pada mulut dan lidah. Apalagi penderita diabetes yang merokok, risiko terjadinya infeksi jamur jauh lebih besar. Oral thrush atau oral candida adalah infeksi di dalam mulut yang disebabkan oleh jamur, sejumlah kecil jamur candida ada di dalam mulut. Pada penderita Diabetes Melites kronis dimana tubuh rentan terhadap infeksi sehingga sering menggunakan antibiotik dapat mengganggu keseimbangan kuman di dalam mulut yang mengakibatkan jamur candida berkembang tidak terkontrol sehingga menyebabkant thrush. Dari hasil pengamatan saya selama berpraktik sebagai dokter gigi yang ditandai dengan adanya lapisan putih kekuningan pada lidah, tonsil maupun kerongkongan.
6. Dental Caries (Karies Gigi)
Diabetes Mellitus bisa merupakan faktor predisposisi bagi kenaikan terjadinya dan jumlah dari karies. Keadaan tersebut diperkirakan karena pada diabetes aliran cairan darah mengandung banyak glukosa yang berperan sebagai substrat kariogenik. (Schuurs HB, 1992) Karies gigi dapat terjadi karena interaksi dari 4 faktor yaitu gigi, substrat , kuman dan waktu. Pada penderita Diabetes Melitus telah diketahui bahwa jumlah air liur berkurang sehingga makanan melekat pada permukaan gigi, dan bila yang melekat adalah makanan dari golongan karbohidrat bercampur dengan kuman yang ada pada permukaan gigi dan tidak langsung dibersihkan dapat mengakibatkan keasaman didalam mulut menurun, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya lubang atau karies gigi.

C.     Cara Pencegahan dan peningkatan Kesehatan Gigi dan Muut pada penderita Diabetes Militus
Berikut hal-hal yang perlu dilakukan oleh penderita Diabetes Mellitus agar dapat menjaga atau mengupayakan supaya kesehatan rongga mulut tetap terjaga dengan baik :

1.         Pertama dan yang terpenting adalah mengontrol kadar gula darah.
2.         Kemudian rawat gigi dan gusi, serta ke dokter gigi untuk pemeriksaan rutin setiap enam bulan. Untuk mengontrol sariawan dan infeksi jamur, serta hindari merokok.
3.         Kontrol gula darah yang baik juga dapat membantu mencegah atau meringankan mulut kering yang disebabkan oleh diabetes. Menggunakan dental floss paling tidak sekali sehari untuk mencegah plak muncul di gigi.
4.         Menggunakan pembersih mulut anti bakteri untuk mengurangi jumlah bakteri penyebab sakit gigi pada mulut.
5.         Menggosok gigi, terutama setelah makan. Gunakan sikat gigi dengan bulu yang lembut.
6.         Perbaiki pola hidup, jauhkan dari penyebab stres.
7.         Bila ada gigi yang tanggal harus segera ''diganti''.
8.         Jangan lupa informasikan mengenai kondisi diabetes bila berkunjung ke dokter gigi, terutama bila hendak mencabut gigi. Kecuali sangat mendesak, sebaiknya hindari perawatan gigi bila kadar gula darah sedang tinggi. Turunkan dahulu kadar gula darah, baru kunjungi dokter gigi kembali.
9.         Pemakaian alat-alat seperti gigi tiruan atau kawat orthodontik perlu mendapat perhatian khusus. Pemakai gigi tiruan harus melepas gigi tiruan sebelum tidur dan dibersihkan dengan seksama agar meminimalkan kemungkinan terjadinya infeksi jamur karena kebersihan yang tidak terjaga.















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Jadi faktor – fakrot yang harus diperhatikan mengenai kesehatan gigi dan mulut pada penderita diabetes adalah :
1.    Jaga kadar gula darah sedekat mungkin dengan kadar gula darah normal, terutama dengan cara menerapkan gaya hidup sehat.
2.    Jaga kebersihan gigi dan mulut sebaik mungkin, agar memperkecil resiko terjadinya karies, gingivitis, ataupun periodontitis.Masalah yang terjadi di rongga mulut penderita diabetes dapat mengarah ke penyakit lain.
3.    Jangan lupa informasikan mengenai kondisi diabetes bila berkunjung ke dokter gigi, terutama bila hendak mencabut gigi. Seperti yang telah dijelaskan di atas, luka pada penderita diabetes sukar sembuh. Ini termasuk juga luka setelah pencabutan gigi. Selain itu juga ada resiko terjadinya infeksi sekunder dan pendarahan yang cukup banyak setelah tindakan oleh dokter gigi.Oleh karena itu dokter gigi akan memberikan tindakan pramedikasi bila dipandang perlu, sebelum melakukan tindakan perawatan pada penderita diabetes.
4.    Kecuali sangat mendesak, sebaiknya hindari perawatan gigi bila kadar gula darah sedang tinggi. Normalkan dahulu kala
5.    Pemakaian alat-alat seperti gigi tiruan atau kawat orthodontic perlu mendapat perhatian khusus. Pemakai gigi tiruan harus melepas gigi tiruan sebelum tidur dan dibersihkan dengan seksama agar meminimalkan kemungkinan terjadinya infeksi jamur karena kebersihan yang tidak terjagar gula darah, baru kunjungi dokter gigi kembali.
DAFTAR PUSTAKA
Sjaifoellah Noer. Buku ajar penyakit dalam Jilid I. Edisi ke-3. Jakarta : FKUI, 1996 : 571 - 622.
Schuurs HB. Patologi gigi-geligi, kelainan-kelainan jaringan keras gigi. Yogyakarta; UGM, 1992; 135-152.
Respati, Titi Nindya.Iwanda.Hubungan diabetes mellitus dengan karies gigi .Semarang; UNDIP,2006.
E.Desmond Farmer, Dental Deases,Fifth edition E & S Living stone Ltd
Robert, P.Langlais, Graig S. Miller , Kelainan Rongga Mulut, Hipokrates 1992

Artikel Lainnya: